SURABAYA | Tribhuwana.com – Pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu dan membentuk karakter generasi bangsa, tetapi juga perlu menjadi lingkungan yang aman bagi seluruh santri dan pengasuhnya. Kesadaran inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan risiko, penyusunan kebijakan, edukasi kebencanaan, hingga penguatan koordinasi lintas sektor. Langkah ini diarahkan untuk membangun lingkungan pesantren yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai potensi ancaman bencana.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Talkshow Ruang Publik TVRI Jawa Timur bertajuk “Pesantren Tangguh: Siap Hadapi Bencana” yang digelar di Surabaya, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur, Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Timur, Agung Subagyo, mengatakan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren perlu menjadi perhatian bersama. Terlebih, Jawa Timur memiliki ribuan pondok pesantren dengan karakteristik wilayah dan tingkat kerawanan bencana yang beragam.
Menurutnya, pemetaan risiko serta penyusunan kebijakan yang menyesuaikan kondisi masing-masing daerah menjadi langkah penting dalam mendorong terbentuknya Pesantren Tangguh Bencana, baik di pesantren berskala kecil maupun besar.
“Kesiapsiagaan pesantren dalam menghadapi bencana perlu menjadi perhatian bersama, mengingat Jawa Timur memiliki ribuan pesantren dengan potensi kerawanan bencana yang beragam. Karena itu, pemetaan risiko dan penguatan kebijakan pemerintah daerah terus didorong untuk mendukung pembentukan Pesantren Tangguh Bencana,” katanya.
Melalui langkah tersebut, pengelola pesantren diharapkan semakin memahami potensi ancaman di lingkungan masing-masing dan mampu menyiapkan langkah antisipasi sesuai karakteristik risiko. Dengan demikian, mitigasi bencana tidak hanya menjadi respons ketika musibah terjadi, tetapi juga menjadi bagian dari tata kelola pesantren sehari-hari.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, M. Arif Ardiansyah, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya berorientasi pada pemulihan kondisi fisik. Aspek psikososial santri, pengasuh, maupun keluarga korban juga perlu mendapatkan perhatian.
Melalui program Jatim Social Care, Dinas Sosial mengerahkan pekerja sosial, penyuluh sosial, serta Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk memberikan pendampingan kepada korban, termasuk dukungan psikososial di lokasi yang aman.
“Dukungan juga diberikan kepada keluarga korban yang membutuhkan bantuan setelah bencana,” jelasnya.
Selain pendampingan, Dinas Sosial berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Bantuan tersebut meliputi penyaluran logistik dan penyediaan dapur umum.
Keberadaan gudang sosial serta Kampung Siaga Bencana juga menjadi bagian dari upaya mempercepat distribusi bantuan ketika kondisi darurat terjadi.
Dari aspek kesiapsiagaan teknis, Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Jawa Timur, Dadang Iqwandy, menjelaskan bahwa BPBD siap mendampingi pesantren melalui program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana).
Pendampingan tersebut mencakup pengkajian risiko bencana, pemeriksaan keamanan bangunan dan instalasi listrik, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) evakuasi serta penanganan keadaan darurat.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan ketika pesantren menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan banyak orang, seperti haul dan pengajian akbar.
Pengelola pesantren perlu mengidentifikasi potensi risiko, memastikan ketersediaan jalur evakuasi, serta membentuk tim yang memahami prosedur penanganan keadaan darurat.
Melalui sinergi perangkat daerah, BPBD, Dinas Sosial, pengelola pesantren, dan masyarakat, Pemprov Jatim berharap budaya sadar bencana semakin tumbuh di lingkungan pendidikan keagamaan.
Sebab, pesantren yang tangguh bukan hanya mampu memberikan pendidikan dan pembinaan karakter, tetapi juga memiliki kesiapan dalam melindungi keselamatan seluruh warganya ketika menghadapi situasi darurat.
Dengan demikian, upaya mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam menciptakan pesantren yang aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi generasi penerus bangsa.






