Pemerintahan

Jaga Kesehatan Mental Generasi Muda, Pemprov Jatim Targetkan Lima Sentra SEHATI

8
×

Jaga Kesehatan Mental Generasi Muda, Pemprov Jatim Targetkan Lima Sentra SEHATI

Sebarkan artikel ini

MADIUN | Tribhuwana.com – Kesehatan mental menjadi salah satu perhatian penting Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Di tengah semakin kompleksnya tantangan kehidupan, khususnya bagi generasi muda, Pemprov Jatim memperluas akses pendampingan kesehatan jiwa melalui Sentra Sehat Jiwa Jawa Timur (SEHATI JATIM) Regional I di Madiun.

Program ini merupakan bagian dari inovasi Jatim Sehat melalui program prioritas Mental Wellness and Happiness Service (MWHS). Fokus utamanya adalah memberikan edukasi, pencegahan, serta pendampingan kesehatan jiwa, terutama bagi kalangan remaja dan aparatur sipil negara (ASN).

Menariknya, layanan SEHATI JATIM dapat diakses masyarakat secara gratis, baik melalui layanan daring maupun dengan datang langsung ke sentra pelayanan.

Hingga 2026, Pemprov Jatim telah menghadirkan dua sentra layanan kesehatan jiwa. Sentra pertama berada di Regional III Surabaya, berlokasi di RS Prof. dr. Moelyono (RS Menur) sejak 2025. Sementara sentra kedua dibuka di Regional I Madiun, bertempat di RS Paru Manguharjo.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Cicik Swi Antika, mengatakan bahwa persoalan kesehatan mental, khususnya pada anak dan remaja, membutuhkan perhatian bersama.

Menurutnya, tuntutan prestasi akademik yang semakin tinggi serta pengaruh media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menjaga kesehatan mental.

“Kalau terkait kesehatan mental, terutama di remaja, anak-anak sekolah, ini memang tantangan luar biasa. Sekarang tuntutan prestasi luar biasa, media sosial juga luar biasa,” ujar Cicik dalam kegiatan Launching Program SEHATI di Kota Madiun, Rabu (28/10/2026).

Ia menjelaskan, kehadiran MWHS menjadi salah satu langkah Pemprov Jatim dalam memperkuat pelayanan kesehatan jiwa melalui pendekatan promotif, preventif, hingga intervensi dasar.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kesehatan mental, tetapi juga memiliki akses untuk memperoleh pendampingan sebelum persoalan yang dihadapi berkembang menjadi lebih berat.

Cicik menegaskan, masyarakat tidak perlu menunggu sampai mengalami depresi untuk mencari bantuan. Ketika mulai merasakan tekanan emosional, menghadapi persoalan pribadi, atau sekadar membutuhkan ruang aman untuk bercerita, layanan SEHATI JATIM dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal.

“Jadi tidak usah khawatir, bisa langsung datang atau telepon,” katanya.

Untuk memudahkan masyarakat, layanan SEHATI JATIM dapat diakses melalui laman resmi https://sehati.jatimprov.go.id/. Masyarakat juga dapat menghubungi sentra pelayanan terdekat melalui nomor kontak yang tersedia di laman tersebut.

Selain pendampingan kesehatan mental, layanan ini juga berpotensi menjadi pintu awal bagi korban kekerasan untuk mendapatkan arahan dan bantuan sesuai kebutuhan penanganan.

Pemprov Jatim sendiri menargetkan pembentukan lima sentra layanan kesehatan jiwa hingga 2029. Setiap sentra direncanakan mewakili satu wilayah regional di Jawa Timur agar jangkauan pelayanan semakin merata.

Melalui program ini, Pemprov Jatim ingin membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari kualitas hidup masyarakat. Perhatian terhadap kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, dan masyarakat.

Sebab, tidak semua persoalan terlihat dari luar. Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk didengarkan, pendampingan untuk melewati tekanan, serta keberanian untuk mencari pertolongan.

Dengan memperluas akses layanan SEHATI JATIM, Pemprov Jatim berharap masyarakat semakin terbuka terhadap persoalan kesehatan mental dan tidak ragu mencari bantuan sejak dini. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari pembangunan masyarakat Jawa Timur yang lebih sehat, tangguh, dan sejahtera secara fisik maupun mental.