SURABAYA l Tribhuwana.com – Pendidikan tidak hanya mengajarkan siswa membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membekali mereka dengan kecakapan hidup yang berguna dalam keseharian. Salah satunya melalui pemahaman literasi keuangan yang diperkenalkan sejak dini dengan metode pembelajaran praktis dan interaktif.
Pendekatan tersebut dikembangkan melalui program Permata CERITA 2026 yang mengajak siswa belajar melalui permainan, simulasi, dan latihan mengambil keputusan. Dengan cara ini, siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memahami dan mempraktikkan pengetahuan melalui situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.
Pembelajaran dirancang agar siswa mampu mengenali kebutuhan dan keinginan, mengelola uang jajan, membangun kebiasaan menabung, serta memahami pentingnya mempertimbangkan pilihan sebelum mengambil keputusan.
Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Wahyu Puspitaningrum, mengapresiasi komitmen Permata Bank dalam menghadirkan edukasi literasi keuangan bagi generasi muda melalui Permata CERITA.
Menurutnya, pengenalan literasi keuangan sejak dini menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman yang memadai agar generasi muda mampu menggunakan layanan keuangan secara bijak dan mengambil keputusan yang tepat.

Ia menilai, materi keuangan perlu disampaikan melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut juga sejalan dengan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan momentum Bulan Inklusi Keuangan yang mendorong perluasan edukasi keuangan di masyarakat.
Pendidikan Digital untuk Membentuk Sikap Kritis
Selain pembelajaran mengenai pengelolaan uang, Permata CERITA 2026 turut mengenalkan keamanan transaksi digital. Materi ini menjadi relevan seiring semakin dekatnya anak-anak dengan teknologi dan berbagai aktivitas digital dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui metode pembelajaran interaktif, siswa diperkenalkan pada prinsip 3A: Amati, Awasi, dan Adukan. Mereka juga belajar menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk PIN dan kode OTP, serta mengenali tanda-tanda aktivitas digital yang mencurigakan.
Siswa didorong untuk tidak mudah percaya terhadap informasi atau permintaan yang tidak jelas, serta memahami pentingnya meminta bantuan orang tua maupun guru ketika menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan.
Pembelajaran tersebut tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membangun sikap kritis, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Dengan demikian, pendidikan literasi keuangan dapat berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan kecakapan digital siswa.
Kepala Divisi Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Christoveny, menekankan pentingnya pendidikan keuangan bagi generasi muda sejak usia dini.
Ia menyampaikan bahwa pemahaman mengenai penggunaan uang sesuai kebutuhan dan kemampuan, kebiasaan menabung, serta investasi melalui lembaga atau saluran resmi merupakan bekal penting dalam membangun perilaku keuangan yang sehat.
Christoveny juga mengapresiasi inisiatif Permata Bank melalui Permata CERITA yang turut memperluas edukasi keuangan bagi pelajar. Menurutnya, kolaborasi antara industri jasa keuangan dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar generasi muda semakin siap menghadapi perkembangan layanan keuangan di masa depan.
Belajar dari Pengalaman, Menumbuhkan Kemandirian
Keterlibatan lebih dari 500 EVO dalam Permata CERITA 2026 turut mendukung proses pembelajaran siswa. Para relawan Permata Bank mendampingi peserta melalui permainan, simulasi, dan latihan pengambilan keputusan agar materi lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara aktif. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga berlatih mengenali persoalan, mempertimbangkan pilihan, dan memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Sebagai bagian dari program Permata Hati, Permata CERITA merupakan wujud komitmen Permata Bank dalam mendukung edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui literasi keuangan.
Sejak 2016 hingga 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat di berbagai kota tempat Permata Bank beroperasi. Pada 2026, pelaksanaannya menjangkau 24 kota dengan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan generasi muda, termasuk dalam menghadapi perkembangan layanan keuangan digital.
Program ini juga mendukung upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional melalui GENCARKAN dan Bulan Inklusi Keuangan 2026 yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan, serta upaya pelindungan konsumen melalui PeKA (Peduli, Kenali, dan Adukan) dari Bank Indonesia.
Melalui Permata CERITA 2026, edukasi keuangan diharapkan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu siswa membangun kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab sejak dini.
Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang dipelajari di ruang kelas, melainkan juga bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk menghadapi kehidupan. Dari kebiasaan sederhana mengelola uang jajan hingga kemampuan menjaga diri di ruang digital, siswa dibekali keterampilan yang dapat menjadi fondasi bagi masa depan mereka. (Anil)







