Gaya Hidup

Di Balik Tembok Rutan, Harapan dan Iman Warga Binaan Nasrani Tetap Terjaga

8
×

Di Balik Tembok Rutan, Harapan dan Iman Warga Binaan Nasrani Tetap Terjaga

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO | Tribhuwana.com – Tembok rumah tahanan boleh membatasi ruang gerak, tetapi tidak seharusnya membatasi seseorang untuk berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menumbuhkan harapan baru.

Semangat itulah yang tercermin dari pelayanan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya dalam memfasilitasi kegiatan ibadah bagi warga binaan beragama Kristen. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan yang tidak hanya memperhatikan aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh kebutuhan batin dan spiritual setiap warga binaan.

Dalam suasana penuh ketenangan, para warga binaan mengikuti ibadah bersama, memanjatkan doa, serta mendengarkan firman Tuhan. Sejenak, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menenangkan hati, menguatkan iman, sekaligus merenungkan perjalanan hidup yang sedang mereka jalani.

Bagi warga binaan, kesempatan beribadah bukan sekadar rutinitas keagamaan. Lebih dari itu, ada harapan yang dirawat, keyakinan yang dikuatkan, serta semangat untuk menjalani hari demi hari dengan lebih baik.

Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menyampaikan bahwa pemenuhan hak beribadah merupakan bagian penting dari pelayanan dan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.

“Setiap warga binaan memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Kami berkomitmen untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan secara baik dan berkelanjutan sebagai bagian dari pembinaan yang humanis, sekaligus menanamkan nilai toleransi, kedamaian, dan saling menghormati di lingkungan Rutan,” ungkapnya.

Menurutnya, pembinaan warga binaan tidak semata-mata berbicara tentang menjalani masa pidana, tetapi juga bagaimana memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, Rutan Kelas I Surabaya terus memberikan ruang bagi seluruh warga binaan untuk menjalankan kegiatan keagamaan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, tanpa membedakan latar belakang, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan keamanan yang berlaku.

Melalui pembinaan yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan toleransi, Rutan Kelas I Surabaya ingin memastikan bahwa setiap warga binaan tetap mendapatkan perhatian, penghormatan, dan kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebab, setiap orang memiliki masa lalu, tetapi setiap orang juga berhak memiliki harapan untuk masa depan. Dari balik tembok rutan, harapan untuk berubah dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik tetap layak dijaga.