Polri

Bukan Sekadar Penegakan Hukum, Kapolri Dorong Pendekatan Dialog Bersama Muhammadiyah

4
×

Bukan Sekadar Penegakan Hukum, Kapolri Dorong Pendekatan Dialog Bersama Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

JAKARTA | Tribhuwana.com – Menjaga kerukunan di tengah keberagaman tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Dialog, komunikasi, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang aman, damai, serta saling menghargai.

Semangat tersebut mengemuka dalam pertemuan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto bersama jajaran Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pertemuan itu membahas penguatan sinergi antara Polri dan organisasi kemasyarakatan dalam menjaga ketertiban, merawat toleransi, serta mencegah potensi konflik di tengah kehidupan demokrasi.

Suyudi menegaskan, tugas Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) membutuhkan dukungan serta kolaborasi berbagai elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat.

Menurutnya, semangat amar makruf nahi mungkar menjadi salah satu nilai yang dapat memperkuat kerja sama dalam menebarkan kebaikan sekaligus mencegah berbagai bentuk kejahatan.

“Amar makruf nahi mungkar, bagaimana kita menebar kebaikan dan juga mencegah terjadi kejahatan. Ini adalah semangat yang digelorakan antara kami dan Muhammadiyah, dan ini akan kami lanjutkan,” ujar Suyudi.

Ia menjelaskan, upaya menjaga keamanan tidak semata-mata dilakukan melalui penegakan hukum. Pendekatan sosial, edukasi, serta komunikasi yang terbuka dengan masyarakat juga diperlukan untuk membangun kepercayaan dan mencegah persoalan berkembang menjadi konflik.

Sebagai bentuk konkret sinergi, Polri dan Muhammadiyah berencana melanjutkan sejumlah kegiatan bersama, di antaranya salat Subuh berjemaah, salat Jumat keliling, program Minggu Kasih, hingga kegiatan di tempat ibadah agama lain.

Melalui pendekatan tersebut, hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat diharapkan semakin dekat, sekaligus membuka ruang perjumpaan lintas agama yang dilandasi sikap saling menghormati.

“Kita harus bahu-membahu menciptakan rasa toleransi antarumat beragama di Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negara yang baik, saling menghargai, saling toleransi, sehingga situasi kamtibmas juga akan kondusif,” kata Suyudi.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan menyampaikan aspirasi dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Haedar, penyampaian pendapat merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, kebebasan tersebut perlu dijalankan dengan tetap memperhatikan ketertiban, menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik, serta menjaga kepentingan bersama.

Pandangan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, ruang dialog perlu terus dibuka agar setiap persoalan dapat dibicarakan secara dewasa dan diselesaikan melalui komunikasi.

Dalam kesempatan itu, Suyudi juga menegaskan komitmen Polri untuk meneruskan berbagai bentuk kerja sama yang telah dibangun bersama Muhammadiyah oleh kepemimpinan sebelumnya.

“Dan tentunya kami melanjutkan apa yang sudah dikomunikasikan, dikerjasamakan selama ini dari pimpinan yang sebelumnya. Kami sebagai pimpinan Polri yang baru, kami bersilaturahmi hari ini, kami juga memohon dukungan yang sama,” ujarnya.

Sinergi Polri dan Muhammadiyah tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan kelembagaan, tetapi dapat diwujudkan melalui kegiatan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Sebab, kerukunan tidak lahir hanya dari imbauan, melainkan tumbuh melalui komunikasi, keteladanan, dan kesediaan untuk saling memahami. Di tengah keberagaman Indonesia, dialog menjadi jembatan penting untuk merawat persatuan sekaligus menjaga ruang demokrasi tetap berjalan secara damai dan bertanggung jawab.