SURABAYA | Tribhuwana.com – Pelestarian seni dan budaya tradisional tidak sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan dan merawat persatuan masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam kolaborasi DPRD Jawa Timur dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim melalui berbagai pertunjukan seni tradisional di sejumlah daerah.
Program sinergitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi kesenian lokal sekaligus mendekatkan masyarakat dengan kekayaan budaya daerah. Beragam pertunjukan, mulai dari ludruk, wayang, hingga campursari, dihadirkan agar seni tradisi tetap hidup dan memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
Ketua Tim Kerja Pembinaan SDM Lembaga Pranata Budaya Disbudpar Provinsi Jawa Timur, Adiyanto, menjelaskan bahwa kolaborasi antara legislatif, eksekutif, dan pelaku budaya menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pelestarian seni tradisional.
“Ini adalah bentuk pelestarian seni tradisi yang dikolaborasikan antara DPRD dengan Disbudpar. Kolaborasi antara legislatif, eksekutif, dan para pelaku budaya itu penting supaya kesenian tetap lestari,” kata Adiyanto.
Ia mengungkapkan, program tersebut menjangkau sekitar 60 hingga 70 titik dalam setahun, termasuk Surabaya, Jombang, dan Mojokerto. Selain menghadirkan pertunjukan, kegiatan itu juga diwujudkan melalui pemberian apresiasi dan bantuan kepada para pelaku budaya.
Menurut Adiyanto, keberlanjutan program tersebut penting untuk memberikan ruang bagi seniman agar terus berkarya dan memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat luas. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan pertunjukan, tetapi juga menjadi upaya menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus mendorong regenerasi pelaku seni.
Antusiasme penonton di kawasan Gunung Sari Indah, Surabaya, menjadi salah satu gambaran bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran pertunjukan seni tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antarwarga melalui nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
“Dengan tingginya antusiasme penonton di Gunung Sari Indah seperti ini menjadi salah satu gambaran bahwa pertunjukan seni masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, semangat merawat kebudayaan juga berjalan beriringan dengan pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan. Cahyo mengajak masyarakat untuk memperluas kepedulian, tidak hanya terhadap pembangunan daerah dan nasional, tetapi juga kepada sesama warga bangsa yang tengah menghadapi cobaan di berbagai wilayah Indonesia.
“Tidak hanya untuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tidak hanya untuk Pemerintah Republik Indonesia, tetapi mari kita berdoa bersama untuk saudara-saudara kita, untuk keluarga-keluarga kita setanah air yang saat ini sedang mengalami cobaan di berbagai wilayah,” katanya.
Cahyo menegaskan, kebersamaan dan keguyuban masyarakat merupakan modal penting dalam membangun Jawa Timur, khususnya Surabaya, agar tumbuh sebagai daerah yang inklusif dan berdaya saing tanpa meninggalkan nilai-nilai sosial dan budaya.
“Jaga keguyuban, jaga persatuan, kita jaga Jawa Timur, kita jaga Surabaya menjadi daerah yang inklusif, maju, berdaya saing, dan berperadaban,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi pemerintah dan pelaku budaya, seni tradisional diharapkan tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat modern. Sebab, kebudayaan yang dirawat bersama bukan sekadar identitas daerah, melainkan juga jembatan yang menghubungkan generasi, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.







